Akses Jalan Utama SDN 2 Tugu Dibenteng. Guru dan Siswa Terpaksa Lewat Belakang Sekolah

- Selasa, 31 Agustus 2021 | 14:30 WIB
Akses jalan utama menuju SDN 2 Tugu dipagari benteng setinggi lebih kurang 2,5 meter. Para guru dan siswa terpaksa melewati jalan setapak di belakang sekolah, Selasa, 31 Agustus 2021. (Ayotasik.com/Heru Rukanda)
Akses jalan utama menuju SDN 2 Tugu dipagari benteng setinggi lebih kurang 2,5 meter. Para guru dan siswa terpaksa melewati jalan setapak di belakang sekolah, Selasa, 31 Agustus 2021. (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

CIHIDEUNG, AYOTASIK.COM -- Akses jalan utama menuju Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Tugu Kota Tasikmalaya di Jalan SL Tobing, Kelurahan Tugujaya, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, dipagari benteng oleh pemilik lahan yang ada di depan sekolah. Akibatnya, di saat sekolah mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas, para guru dan siswa menjadi terhambat karena harus memutar melalui jalan setapak yang ada di belakang sekolah.

Benteng setinggi lebih kurang 2,5 meter dengan panjang sekitar 15 meter tersebut menutup akses jalan utama ke SDN 2 Tugu sejak awal tahun 2021, sekira bulan Januari-Pebruari.

Kepala SDN 2 Tugu Sri Mulyani mengatakan, dari cerita para guru, komite sekolah, dan kepala sekolah sebelumnya, bahwa awalnya akses jalan menuju sekolah tidak bermasalah. Bahkan pemilik lahan memberikan akses jalan di sebelah utara dengan lebar yang bisa dilalui oleh kendaraan roda 4.

Kemudian ada bantuan dari anggota DPRD Kota Tasikmalaya untuk pengaspalan lahan halaman sekolah karena ini awalnya tidak rata lahan gunung berbatu.

"Entah karena melihat halaman sekolah diaspal dengan menuju akses ke sekolah, mungkin keluarga dari pemilik tanah ketakutan jika akses jalan diakui sebagai lahan sekolah, akhirnya mereka membangun benteng ini," ujar Sri, Selasa, 31 Agustus 2021.

Menurutnya, sebelumnya memang sudah ada komunikasi antara pemilik lahan, pihak sekolah, dan dari Badan Pertanahan Negara. Bahkan, dari keterangan komite sekolah ada sebagian tanah pemilik lahan yang terpakai bangunan sekolah dan sudah dibangun sebanyak 2 lokal ruangan. "Mungkin karena adanya perdebatan antara BPN, pemilik, dan sekolah, akhirnya mereka melepasnya dan membentengi akses jalan," ucapnya.

Ia menuturkan, sebenarnya pihak pemilik lahan telah memberikan lahan dengan lebar setengah meter untuk akses jalan ke sekolah di samping benteng. Namun, karena kondisinya setengah meter dan belum diratakan, sehingga tidak bisa digunakan. Terlebih dengan ukuran setengah meter untuk masuk sepeda juga susah, kecuali ditambah oleh pemilik lahan yang ada di sebelahnya yang kini telah disewa oleh pemilik warung makan.

"Kebetulan ini sudah dikontrak duluan oleh pemilik warung dan mungkin tidak memberikan jalan untuk ke sekolah akhirnya tidak bisa apa-apa," kata dia.

Sri menjelaskan, untuk menuju sekolah kini para siswa SDN 2 Tugu yang jumlahnya sebanyak 167 siswa harus memutar dan menggunakan jalan setapak yang ada di belakang sekolah. Para siswa dan guru harus menapaki jalan di pinggir pesawahan dan tanah kuburan yang ada di sekitar belakang sekolah. "Kebetulan kami mencari solusi lain, dan dengan terpaksa menuju ke sekolah melalui jalan yang ada di belakang sekolah," jelasnya.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

Sastra Sunda: HAMPURA DEWEK, EUY!

Senin, 29 November 2021 | 17:08 WIB
X