Payung Geulis Ikon Kota Tasikmalaya. Si Geulis Pelindung Panas dan Hujan yang Enak Dipandang

- Selasa, 14 September 2021 | 15:56 WIB
Payung Geulis motif Siti Akbari, satu-satunya motif zaman dulu yang diproduksi Karya Utama di Kampung Panyingkiran, Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Kamis (18/3/2021). (AyoTasik.com/Heru Rukanda).
Payung Geulis motif Siti Akbari, satu-satunya motif zaman dulu yang diproduksi Karya Utama di Kampung Panyingkiran, Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Kamis (18/3/2021). (AyoTasik.com/Heru Rukanda).

INDIHIANG, AYOTASIK.COM -- Payung Geulis merupakan ikon Kota Tasikmalaya. Payung merupakan alat pelindung dari hujan dan panas. Sedangkan Geulis memiliki arti "elok atau molek". Payung Geulis memiliki arti payung cantik yang enak dipandang.

Di Kota Tasikmalaya, Payung Geulis mulai diproduksi oleh H Muhi, salah seorang tokoh masyarakat di wilayah Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, pada tahun 1930-an. H Muhi merupakan salah satu tokoh masyarakat yang memilik kekayaan di atas rata-rata. Bahkan, ia membuat payung sendiri--payung yang beda dari payung orang lain. Payung as yang digunakan untuk pergi ke ladang pada saat panas dan hujan dibikin dari kertas.

Lalu, payung H Muhi tersebut menarik perhatian orang banyak dan menjadi inspirasi bagi warga lainnya yang kemudian membuat payung yang sama. Kemudian mereka berpikir bagaimana payung cantik itu bisa menjadi komoditas usaha. Mulai mereka memproduksi payung dan menjadi pengrajin.

Payung Geulis rangkanya terbuat dari bambu. Setelah dirangkai dan dipasangi kain dan kertas, ujung payung dirapikan dengan menggunakan kanji. Agar menarik, rangka bagian dalam diberi benang warna-warni. Proses ini disebut ngararawat.

Proses pembuatan Payung Geulis ini bergantung pada sinar matahari, karena setelah diberi kanji, payung dijemur hingga keras. Payung kemudian diberi warna, serta dilukis dengan corak bunga.

Semua proses pembuatan Payung Geulis dibuat secara manual dengan buatan tangan ataub handmade, kecuali gagang payung yang dibuat dengan menggunakan mesin.

Salah seorang perajin Payung Geulis di Kampung Panyingkiran, Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Sandi Mulyana mengatakan, di kampungnya kini hanya sekira 5 rumah produksi yang masih beroperasi memproduksi Payung Geulis. "Sekarang ada 5 home industri yang masih bertahan," ujar Sandi di rumah produksi Payung Geulis Karya Utama di Panyingkiran, belum lama ini.

Menurutnya, rumah produksi Karya Utama kali pertama didirikan tahun 1971 oleh kakeknya A. Sahrod yang kini sudah meninggal tahun 2003. Pada saat itu dengan modal pinjaman sebesar Rp7.000, kakeknya mulai memproduksi Payung Geulis. Sementara untuk membayar utang modal dibayar dengan barang hasil produksi.

Sepeninggal kakeknya, rumah produksi Karya Utama kemudian dilanjutkan oleh kakaknya Emil Yulianti sebagai generasi ke-2 yang kini sudah meninggal beberapa tahun lalu. "Setelah kakak saya meninggal, pabrik Karya Utama sempat tutup sekira 15 hari. Banyak dorongan kepada saya dari para pemuda dan lingkungan agar meneruskan memproduksi Payung Geulis," ucapnya.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Sumber: ayotasik.com

Tags

Terkini

Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya Butuh Sentuhan

Jumat, 24 September 2021 | 17:46 WIB

Volume Sampah Kabupaten Tasik Capai 900 Ton Setiap Hari

Jumat, 24 September 2021 | 14:23 WIB

Tata Cara Salat Dhuha dan Doa Setelahnya

Jumat, 24 September 2021 | 11:05 WIB

Buang Sampah Sembarangan di Tasikmalaya Bakal Kena Denda

Kamis, 23 September 2021 | 16:34 WIB

Dari Paniis Tasikmalaya, Kerajinan Bambu Tembus ke Eropa

Kamis, 23 September 2021 | 14:12 WIB
X