Kecelakaan di Jalur Gentong Tasikmalaya Kerap Dikaitkan dengan Kisah Misteri Nyai Sinden Neng Syarifah

- Rabu, 15 September 2021 | 16:19 WIB
Tak kuat menanjak, truk pembawa batu alam terguling dan masuk jurang di Tanjakan Gentong, Kadipaten, Tasikmalaya, Rabu, 15 September 2021. (Ayotasik.com/Heru Rukanda)
Tak kuat menanjak, truk pembawa batu alam terguling dan masuk jurang di Tanjakan Gentong, Kadipaten, Tasikmalaya, Rabu, 15 September 2021. (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

KADIPATEN, AYOTASIK.COM -- Jalan Raya Gentong, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, dikenal sebagai jalur tengkorak atau rawan kecelakaan. Sebagai pertanda bahwa jalur Tanjakan Gentong merupakan jalur rawan kecelakaan, di pinggir jalan pun di pasang rambu-rambu berlambang tengkorak. Bahkan polisi membuat sebuah tugu dengan sepeda motor ringsek di atasnya.

Kondisi jalan yang berkelok dan menanjak atau menurun serta berada di antara tebing dan jurang, membuat jalur ini sering dianggap sebagai jalur tengkorak.

Kali terakhir kecelakaan terjadi pada Rabu, 15 September 2021. 2 truk ke jurang tepatnya di Kampung Langkob, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya.

Bagi sebagian masyarakat Gentong, kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Gentong tidak semata-mata lantaran persoalan teknis kendaraan, tapi kerap dikaitkan dengan sebuah cerita misteri Nyai Sinden bernama Neng Syarifah yang berkembang di masyarakat Gentong.

Salah seorang warga, Aip (38) mengatakan, cerita misteri tentang Nyai Sinden Neng Syarifah sudah ada sekitar tahun 1940-an. Menurutnya, Nyai Sinden Neng Syarifah merupakan sinden panggung yang merupakan warga asal Gentong. Konon katanya, Nyai Sinden Neng Syarifah memiliki paras yang cantik dengan rambut bersanggul dan memakai kebaya merah berselendang merah. "Kata orang tua dulu, Neng Syarifah itu seorang sinden dalam sebuah grup ronggeng di Kadipaten dan banyak penggemarnya. Pakaiannya serba merah," ujar Aip.

Jadi Tumbal Pembangunan Jembatan

Aip menuturkan, dari cerita yang berkembang di masyarakat, Nyai Sinden berkebaya merah itu dijadikan tumbal untuk pembangunan jembatan yang dikenal dengan Jembatan Sarongge, di Kampung Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya pada zaman penjajahan Belanda.

Lantaran kematiannya yang tidak wajar itu, arwah Nyai Sinden Neng Syarifah konon kerap menampakkan diri kepada pengendara yang melintasi Jalan Gentong. Bahkan tak jarang meminta tumpangan kepada pengendara dan minta diturunkan di sekitar jembatan atau tempat yang sunyi. "Kata para sopir yang pernah melihat dan ditumpangi Nyai Sinden, kendaraan menjadi terasa berat ketika menaiki tanjakan," ucapnya.

Ia menyebut kisah Nyai Sinden Neng Syarifah tersebut cukup familiar di kalangan warga Gentong. "Dari cerita orang tua, Nyai Sinden Neng Syarifah bersama grup ronggengnya dikubur hidup-hidup dijadikan tumbal," ungkapnya.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya Butuh Sentuhan

Jumat, 24 September 2021 | 17:46 WIB

Volume Sampah Kabupaten Tasik Capai 900 Ton Setiap Hari

Jumat, 24 September 2021 | 14:23 WIB

Tata Cara Salat Dhuha dan Doa Setelahnya

Jumat, 24 September 2021 | 11:05 WIB

Buang Sampah Sembarangan di Tasikmalaya Bakal Kena Denda

Kamis, 23 September 2021 | 16:34 WIB

Dari Paniis Tasikmalaya, Kerajinan Bambu Tembus ke Eropa

Kamis, 23 September 2021 | 14:12 WIB
X