Sejarah dan Fakta Unik Jembatan Cirahong : Lokasi Bunuh Diri dan Tempat Wisata

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 19:13 WIB
Jembatan Cirahong. (instagram@dailytasik)
Jembatan Cirahong. (instagram@dailytasik)

MANONJAYA, AYOTASIK.COM -- Jembatan Cirahong adalah jembatan satu-satunya di Indonesia yang memiliki fungsi lalu lintas ganda. Bagian atas jembatan merupakan rel kereta api sedangkan bawahnya digunakan sebagai arus lalu lintas kendaraan. Namun, sejak diperbaiki Juli 2021 lalu, bagian bawah jembatan hanya dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan roda 2 dan pejalan kaki.

Jembatan Cirahong memiliki panjang 202 meter dengan ketinggian sekitar 66 meter. Jembatan ini melintas di atas Sungai Citanduy dan merupakan jembatan penghubung Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Ciamis. Jembatan Cirahong adalah salah satu peninggalan Kolonial Belanda saat menjajah Indonesia.

Sejak puluhan tahun silam, jembatan Cirahong ini digunakan sebagai jalur alternatif warga Kabupaten Tasikmalaya menuju Kabupaten Ciamis, begitu pun sebaliknya. Jembatan dengan rangka besi ini bagian bawahnya dipasang balok-balok kayu sebagai alas jembatan untuk arus lalu lintas kendaraan.

Jembatan dengan lebar sekitar 3 meter ini membuat arus lalu lintas yang melintasi bagian bawah harus bergiliran dan antre. Warga dari ke 2 daerah pun saling koordinasi untuk mengatur kendaraan yang masuk ke jembatan agar lalu lintas berjalan lancar. Kondisi ini pun dimanfaatkan warga sekitar untuk meraup rupiah dari jasa mengatur lalu lintas di bawah jembatan.

Jembatan Cirahong Dibangun Tahun 1893

Dilansir dari laman resmi dbmtr.jabarprov.go.id, Jembatan Cirahong mulai dibangun tahun 1893 oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatspoorwegen. Jembatan Cirahong merupakan bagian dari pembangunan rel kereta api jalur selatan di Pulau Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda.

Arsitektur Jembatan Cirahong unik. Konstruksinya berupa besi baja yang disusun bertingkat dengan rusuk pelat untuk menampung lalu lintas mobil, motor, sepeda hingga pejalan kaki di bagian bawah, serta rusuk kontinu untuk keperluan jalur kereta api reguler PT KAI Daop 2 Bandung di bagian atas. Jembatan kemudian diperkuat tahun 1934.

Tidak ada angkutan umum roda empat resmi yang melewati jalur Jembatan Cirahong. Kendaraan yang melintas umumnya angkutan pribadi. Karena lebar badan jembatan hanya cukup untuk satu mobil atau sekitar 2 meter, kendaraan yang melintas harus bergantian. Biasanya ada beberapa warga yang bertugas mengatur lalu lintas di kedua ujung pintu jembatan.

Warga dari daerah Manonjaya mengatur arus masuk kendaraan dari pintu jembatan sebelah selatan atau pintu dari arah Manonjaya. Sedangkan warga Ciamis mengatur lalu lintas dari arah utara. Bergantian berjaga selama 24 jam, mereka hanya mendapatkan upah alakadarnya dari sopir atau warga yang melintas di Jembatan Cirahong.

Halaman:

Editor: Dadi Haryadi

Tags

Terkini

Sastra Sunda: CINTA NU KARI 10%

Selasa, 14 Desember 2021 | 12:33 WIB

Kedai Kopi 77 Tempat Ngopi Outdoor di Kota Tasikmalaya

Minggu, 12 Desember 2021 | 20:35 WIB

Sastra Sunda: HAMPURA DEWEK, EUY!

Senin, 29 November 2021 | 17:08 WIB

Cerita Pendek: PEREMPUAN DAUN PISANG

Sabtu, 20 November 2021 | 08:39 WIB

Sastra Sunda: MAPAG UDAT-UDAT BALEBAT

Rabu, 15 September 2021 | 11:53 WIB

Cerita Pendek: TATAPAN MATA

Selasa, 31 Agustus 2021 | 12:17 WIB

4 Kerajinan Khas Kota Tasikmalaya

Jumat, 13 Agustus 2021 | 20:20 WIB
X