Wisata Sejarah di Kabupaten Tasikmalaya, Ini Daftarnya

- Jumat, 30 Juli 2021 | 19:43 WIB
Masjid Agung Manonjaya, alah satu tempat wisata sejarah di Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)
Masjid Agung Manonjaya, alah satu tempat wisata sejarah di Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM – Kabupaten Tasikmalaya kaya akan wisata, mulai dari wisata religi, wisata alam hingga wisata sejarah. Dari sederet tempat wisata sejarah yang ada, ada dua tempat wisata yang sarat nilai sejarah dan masih banyak dikunjungi hingga saat ini. Yakni jembatan cirahong, masjid agung Manonjaya yang ada di Kecamatan Manonjaya dan Pendopo Kabupaten Tasikmalaya.

Jembatan Cirahong

Warga Tasikmalaya tentu mengenal jembatan Cirahong yang berada di Desa Margaluyu Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Jembatan tersebut dibangun pada tahun 1893 oleh pemerintah Belanda dengan panjang 202 meter dengan tinggi 66 meter diatas aliran sungai Citanduy.

Bukan hanya dipakai sebagai jalur kereta api, Jembatan Cirahong juga dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan dari arah Tasikmalaya menuju Kabupaten Ciamis dan sebaliknya. Namun saat melintasi jembatan Cirahong, kendaraan harus bergantian karena jalur hanya cukup dilalui satu kendaraan saja.

Meski sudah berumur 128 tahun, jembatan Cirahong masih kokoh berdiri. Banyak wisatawan baik dari wilayah Tasikmalaya maupun wilayah lain berdatangan sekedar untuk menikmati keindahan dan melihat arsitektur jembatan yang sangat memukai.

Masjid Agung Manonjaya

Masih di Kecamatan Manonjaya, tempat wisata sejarah lainnya yakni Masjid Agung Manonjaya. Masjid yang berada persis didepan alun-alun ini  dibangun tahun 1832 oleh Raden Tumenggung Daruningrat atau Wiradadaha VIII. Bangunan Masjid Agung Manonjaya berbeda dan unik dibandingkan dengan bangunan masjid lainnnya.

Bangunan masjid berasitektur neoklasik dengan perpaduan Sunda, Jawa, dan Eropa. Jika masjid pada umumnya menggunakan atap berupa kubah, Masjid Agung Manonjaya menggunakan atap tumpang tiga. Adaptasi neoklasik Eropa sendiri tampak dari kondisi serambi masjid yang memiliki banyak tiang penyangga. Sementara gaya Eropa dilihat dari menara masjid di sisi kanan, kiri, dan dua di tengah. Menara kanan dan kiri masjid berbentuk segi delapan. Ada enam buah jendela di setiap menara.

Di ruang utama, terdapat 10 tiang penyangga. Tiang tersebut terdiri atas empat tiang soko guru berbentuk segi delapan, empat tiang penyangga atap di antara tiang soko guru, ditambah dua tiang yang berdiri di depan mihrab.

Halaman:

Editor: Dadi Haryadi

Tags

Terkini

Sastra Sunda: MAPAG UDAT-UDAT BALEBAT

Rabu, 15 September 2021 | 11:53 WIB

Cerita Pendek: TATAPAN MATA

Selasa, 31 Agustus 2021 | 12:17 WIB

4 Kerajinan Khas Kota Tasikmalaya

Jumat, 13 Agustus 2021 | 20:20 WIB
X