Obat Psikotropika yang Diproduksi di Tasik Diedarkan di 3 Kota Besar Ini

- Minggu, 13 Juni 2021 | 10:06 WIB
Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Doni Hermawan bersama BNN memperlihatkan obat psikotropika yang diproduksi di 2 rumah kontrakan di Perumahan Bumi Resik Indah Kota Tasikmalaya, Sabtu, 12 Juni 2021). (Ayotasik.com/Heru Rukanda).
Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Doni Hermawan bersama BNN memperlihatkan obat psikotropika yang diproduksi di 2 rumah kontrakan di Perumahan Bumi Resik Indah Kota Tasikmalaya, Sabtu, 12 Juni 2021). (Ayotasik.com/Heru Rukanda).

CIPEDES, AYOTASIK.COM -- Sebanyak 700.000 butir pil berlogo YY dan LL ditemukan dari 2 rumah kontrakan yang digerebek petugas gabungan BNN dan Kepolisian, di Perumahan Bumi Resik Indah Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Sabtu, 12 Juni 2021.

Petugas juga menemukan barang bukti lainnya berupa serbuk putih dan cairan alkohol yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat terlarang tersebut. Selain itu, dari rumah kontrakan yang berada di Blok A nomor 3 dan A nomor 5 tersebut, ditemukan juga mesin pencetak obat, mesin open, dan beberapa karung bahan baku seperti lakstosa, glocel, dan cairan alkohol 70%.

Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Doni Hermawan mengatakan,  mesin pencetak obat yang ditemukan di dalam kamar mampu memproduksi 200.000 butir dalam kurun waktu 4 hari. Artinya dalam sehari obat terlarang yang diproduksi sekira 5.000 butir.

"Yang kita temukan itu sekitar 700.000 butir. Obat-obat terlarang diedarkan ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya," ujar Doni, saat meliris hasil penggerebekan di tkp, Sabtu, 12 Juni 2021.

Menurutnya, ada 6 terangka dalam bisnis pembuatan obat terlarang tersebut mulai dari pemilik, peracik, pencetak, kurir, hingga pembelinya. Ke 6 tersangka tersebut masing-masing berinisial YA sebagai pemilik, AS sebagai kurir, ABP, IS, SU sebagai peracik dan pencetak, dan SO sebagai pembelinya.

"Pembelinya kita amankan di Bandung," ucapnya.

Ia mengatakan, dari keterangan tersanga YA, obat yang termasuk golongan psikotropika tersebut tidak diedarkan di Tasikmalaya. Peredaran obat tersebut dilakukan melalui jasa expedisi ke wilayah Bandung,Jakarta, dan Surabaya. Obat tersebut dijual seharga Rp10.000 per butir.

"Bahan bakunya didatangkan dari Cilacap. Obat ini merupakan obat keras karena memang salah satu campurannya alkohol 70%. Jika dikonsumsi akan menyebabkan pusing," kata dia.

Doni menambahkan, untuk pengembangan kasusnya lebih lanjut, semua tersangka dan barang bukti akan dilimpahkan ke Polda Jabar.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku Perdagangan Orang

Kamis, 12 Agustus 2021 | 15:48 WIB

PTM di Kota Tasikmalaya Mulai Pekan Depan

Rabu, 11 Agustus 2021 | 15:50 WIB
X